Kamis, 16 Juni 2011

ICT dalam Pengembangan Agribisnis Pertanian di Indonesia

     Masalah pertanian dari dahulu pada saat bangsa Indonesia merdeka di tahun 1945, sampai sekarang yang usianya sudah 63 tahun, tampaknya berkisar pada problematik apakah sektor pertanian ini mampu mensejahterakan petani dan masyarakat pertanian. Jawabannya ternyata memang masih belum bisa, terbukti produktivitas pertanian belum seperti yang diharapkan dan pendapatan serta kesejahteraan petani yang masih relatif rendah. 


     Karena itu perlu upaya untuk mempercepat dan meningkatkan peran sektor pertanian tersebut melalui pendekatan baru, yaitu pemanfaatan Information and Communication Technology (ICT) di berbagai kegiatan pertanian, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi hasil pembangunan pertanian. Pemanfaatan ICT untuk pengembangan agribisnis di Indonesia tampaknya memang belum optimal. Namun secara bertahap pemanfaatan ICT ini akan semakin banyak dimanfaatkan dalam pengembangan agribisnis pada masa-masa mendatang.

Jenis-jenis ICT yang Sering Digunakan Pengembangan Agribisnis
     Teknologi yang sering digunakan dalam aplikasi ICT diberbagai kegiatan, apakah itu digunakan di kegiatan agribisnis maupun di aktivitas lainnya, lazimnya dapat dikelompokkan menjadi lima macam. Ke lima macam teknologi ini (ditambah lagi dengan kombinasi dari ke lima macam teknologi tersebut) bermula dari yang paling sederhana sampai pada teknologi yang mutakhir. Teknologi yang paling sederhana ini, misalnya teknologi yang digunakan terbatas pada pendukung kegiatan agribisnis, seperti brosur penyuluhan, iklan produk pertanian, dan sebagainya.
Ke lima macam teknologi ini adalah:
1. Teknologi Cetak.
     Yang masuk dalam teknologi cetak ini antara lain modul untuk penyuluhan pertanian, tutorial tertulis bagi peserta pelatihan pertanian, buku-buku pertanian, brosur-brosur pertanian, dsb-nya.
2. Teknologi Audio
     Yang masuk dalam teknologi audio ini antara lain :
a.   Kaset tape (pembelajaran yang menggunakan kaset).
b. Siaran radio (pembelajaran yang menggunakan radio). Siaran radio pertanian dengan program kelompok pendengar siaran radio pertanian atau juga ada Kelompok Pendengar, Pembaca dan Pemirsa (Kelompencapir).
c. Telepon dan voice mail telephone (konsultasi, penyuluhan, pelatihan, pembelajaran atau tutorial yang menggunakan telepon. Tele-conferencing juga termasuk kelompok ini karena komunikasinya menggunakan telepon.


3.Teknologi Video dan Televisi (TV)
     Teknologi ini pada dasarnya adalah teknologi yang digunakan untuk penyuluhan, pelatihan, pembelajaran atau tutorial melalui TV, VCD, Kaset video. Video-conferencing juga memanfaatkan TV. Yang masuk dalam kelompok ini adalah siaran TV, VCD, fiber optics, video tape, video text, video messaging, dsb-nya.
4. Teknologi Komputer
     Teknologi ini pada dasarnya menggunakan komputer sebagai alat bantu pemberian informasi. Pembelajaran yang menggunakan komputer, seperti Computer Assisted Instruction (CAI), Computer Based-Learning (CBL), Computer Based-Technology (CBT), chatting, bulletin board, e-mail, internet, on-line learning, dll. Komputer sering juga dipakai untuk membuat database di mana komputer digunakan untuk pengumpulan dan penyimpanan data dan komputasi.
5. Teknologi Internet
     Teknologi ini berkembang pesat setelah ditemukannya internet. Bahkan kini orang sudah sangat ketergantungan dengan teknologi internet ini, melalui apa yang dinamakan web-based activities. Disamping dari lima macam teknologi di atas, kini juga banyak digunakan kombinasi dari lima macam teknologi tersebut. Perpaduan lima macam teknologi tersebut merupakan teknologi yang dirancang untuk memanfaatkan kombinasi audio-data, video-data, audio-video, dan audio-video-web dengan menggunakan komputer.


     Pemerintah yang ditugasi membangun sektor pertanian sebenarnya juga telah mulai mempertimbangkan dan memasukkan ICT ini dalam program pembangunan lima tahun Departemen Pertanian. Kini, Departemen Pertanian memperkenalkan program yang dinamakan Program Rintisan dan Akselerasi Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian (Primatani). Program ini pada dasarnya dirancang untuk mempercepat pemanfaatan hasil-hasil penelitian untuk segera diterapkan di masyarakat pertanian, khususnya dengan memanfaatkan keunggulan ICT.


     Kemudian diperkenalkan pula sebuah program yang diberi nama FEATI atau Farmer Empowerment through Agriculture Technology and Information atau Program Pemberdayaan Petani melalui Teknologi dan Informasi (Departemen Pertanian, 2007). Tujuan dari diperkenalkan program FEATI ini adalah memberdayakan petani dan organisasi petani dalam peningkatan produktifitas pendapatan dan kesejahteraan petani kemudian diperkenalkan pula sebuah program yang diberi nama FEATI atau Farmer Empowerment through Agriculture Technology and Information atau Program Pemberdayaan Petani melalui Teknologi dan Informasi (Departemen Pertanian, 2007). 
     Tujuan dari diperkenalkannya program FEATI ini adalah memberdayakan petani dan organisasi petani dalam peningkatan produktivitas, pendapatan dan kesejahteraan petani melalui peningkatan aksesibilitas terhadap informasi, teknologi, modal dan sarana produksi, pengembangan agribisnis dan kemitraan usaha.
     Kegiatan utama dari FEATI ini adalah mengandalkan pemanfaatan ICT dalam memberikan penyuluhan pertanian. Program FEATI adalah dirancang untuk melaksanakan:
1. Pengembangan kelembagaan penyuluhan
2. Pengembangan kelembagaan petani
3. Penguatan ketenagaan penyuluhan
4. Perbaikan sistem dan metode penyuluhan
5. Perbaikan penyelenggaraan penyuluhan
6. Penguatan dukungan teknologi pada usaha tani/agribisnis di tingkat petani 
7. Perbaikan pelayanan teknologi dan informasi pertanian


     Kini ICT juga dicoba untuk mendorong agar pertanian Indonesia mampu bersaing. Hal ini dapat dimengerti karena peran ICT sering menonjol, apakah itu di kegiatan teknologi produksi maupun di kegiatan teknologi informasi. Dengan demikian, lambat atau cepat, maka pelaku agribisnis di Indonesia harus bisa menguasai teknologi tersebut.
     Komponen ICT ini lazimnya dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu:
1. Technoware (fasilitas fisik, misalnya mesin)
2. Humanware (kemampuan/ketrampilan tenaga kerja)
3. Infoware (informasi/data), dan
4. Orgaware (organisasi)


     Misalnya untuk tingkat pengembangan suatu perusahaan hasil olahan dari produk pertanian, bantuan ICT akan sangat menentukan proses kegiatan perusahaan tersebut. Ke empat komponen di atas, tentu saling kait mengkait satu sama lain, karena komponen yang satu akan saling mempengaruhi komponen yang lain.

Pemanfaatan ICT dalam Agribisnis di Indonesia
a. Peran Telepon atau Handphone (HP)
     Hasil penelitian Viranti, Anindita dan Soekartawi (2008) menunjukkan bahwa aplikasi model Factor Analysis dapat digunakan untuk mengetahui variabel-variabel yang berasosiasi kuat dengan HP yang dimiliki pedagang sayur mayur di Pasar Besar dan Pasar Induk Gadang Kota Malang. Hasil analisis menunjukkan bahwa merk, kemudahan mengoperasikan HP, harga HP and harga pulsa HP berasosiasi kuat dengan penggunaan HP dalam bisnis sayur mayur.
     Dilihat dari sisi pedagangnya sendiri, maka mereka yang mempunyai kemampuan membaca, mengakses informasi dan hidup yang relatif berkecukupan adalah berkecenderungan memanfaatkan HP dalam bisnis sayur mayurnya. Hasil penelitian juga memberikan indikasi bahwa pemanfaatan ICT (dalam hal ini HP) ternyata mampu meningkatkan portfolio bisnis. Implikasi dari hasil penelitian ini adalah bahwa untuk meningkatkan portfolio agribisnis, maka tidak menutup kemungkinan untuk memanfaatkan HP pada semua kegiatan agribisnis (Viranti, dkk, 2008).
     Penelitian lebih lanjut sangat dianjurkan, khususnya untuk menjawab sampai seberapa besar pemanfaatan HP mampu mengurangi biaya pemasaran, meningkatkan market intelligent dan perancanaan startegis, meningkatkan keakraban pelaku agribisnis dan sekaligus meningkatkan kepercayaan, meningkatkan dan memperluas akses pasar, dsb-nya
     Peran Telpon HP dapat juga dipakai untuk kegiatan monitoring. Misalnya di perkebunan kelapa sawit yang hamparannya lebih dari 10 hektar, seorang supervisor dapat memonitor pekerja yang sedang melakukan kegiatan di berbagai kawasan atau blok. Misalnya berapa pekerja yang masuk bekerja di blok1, blok2, dsb-nya, berapa pekerja pria dan berapa orang pekerja wanita, berapa bibit yang sudah ditanaman hari itu, berapa penggunaan pupuk yang dipakai, dan masih banyak contoh yang lain.
b. Peran Multimedia
  1. Radio Pertanian
     Peran siaran radio bagi penyuluhan pertanian sangat penting khususnya di daerah-daerah di mana kebanyakan petani mempunyai radio. Kini banyak Pemerintah Daerah mengembangkan siaran radio pertanian. Bahkan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) yang tersebar di berbagai propinsi di Indonesia, juga ada yang membina siaran radio pertanian ini, baik siaran radio yang dimiliki Pemerintah daerah maupun swasta.
     Pada intinya tujuan siaran radio pertanian ini adalah mengetahui dan meningkatkan peran radio terhadap percepatan informasi teknologi yang disertai kegiatan penyuluhan pertanian. Dengan cara seperti ini, maka diharapkan masyarakat, khususnya masyarakat pertanian dapat mengetahui pola siaran hal-hal yang berkaitan dengan pertanian yang sesuai dengan apa yang diperlukan oleh petani.
     Kualitas siaran radio dan komponen pendukung siaran seperti materi siaran, program pendukung siaran (agar mendorong pendengar mendengarkan) seperti lagu-lagu dan persiapan kegiatan pengkajian, selalu terus ditingkatkan. Kegiatannya dapat dirancang, misalnya melakukan sosialisasi kegiatan; kemudian kegiatan test awal mengenai materi siaran yang akan diberikan. Post-test juga baik untuk dilakukan setelah satu bulan pelaksanaan program siaran.Tahap pelaksanaaan dilakukan dengan menyiarkan beberapa materi siaran dan kemudiaan dilakukan evaluasi oleh petugas, misalnya oleh pihak BPTP dengan mengevaluasi respon petani terhadap materi siaran, teknik siaran serta peningkatan kemampuan petani terhadap teknologi yang disiarkan yang dibuktikan dari peningkatan nilai test yang telah dibuat. Data kemudian dianalisis dengan menggunakan uji statistik tertentu.
     Salah satu contoh penggunaan siaran radio untuk penyuluhan yang berhasil adalah yang dilakukan oleh BPTP Sulawesi Tengah. Sejak tahun 2002, pembinaan radio amatir telah dirintis oleh BPTP dengan pelaksananya Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Bahagia yang didukung oleh penyiar yang berasal dari pemuda dan anggota masyarakat setempat lainnya, menunjukkan bahwa siaran radio akan efektif kalau disiarkan mulai pukul 7.00 pagi hingga pukul 10.00 malam. 
     Walaupun program siaran radio ini dinilai berhasil, namun disana-sini masih pula dijumpai kendala, misalnya dalam kaitannya dengan pendanaan khususnya untuk honorarium pegawai, perawatan peralatan, dan sebagainya. Kini pemerintah Daerah Sulawesi Tengah terus mengembangkan program siaran radio ini mengingat geografis daerah yang kadang-kadang sulit ditempuh dengan kendaraan. Siaran radio pertanian untuk daerah yang terisolasi menjadi amat penting. 
     Propinsi Jawa Timur dahulu mempunyai siaran radio pertanian yang kuat di Wonokromo, Surabaya Selatan, sehingga saat itu radio benar-benar dapat dipakai sebagai alat penyuluhan pertanian untuk mensukseskan program Bimbingan Massal (Bimas) sehingga akhirnya Jawa Timur mampu mencapai swasembada beras di tahun 1984-1985. Sayangnya kini banyak pelaksanaan program siaran radio pertanian tidak dilaksanakan secara ‘full speed’ (tidak dilaksanakan sungguh-sungguh) dengan alasan keterbatasan dana.
  2. Televisi Pertanian
     Pemerintah juga pernah memanfaatkan Televisi (TV) untuk kegiatan penyuluhan pertanian. Hingga kinipun program ini masih ada, namun sering tidak atau kurang dirancang untuk kebutuhan penyuluhan atau pendidikan pertanian, namun lebih condong ke program hiburan. Mestinya program-program siatan pertanian di TV, apapun bentuk dan ragamnya, hendaknya memperhatikan kaidah manfaat, artinya bagaimana program siaran pertanian yang disiarkan di TV tersebut dapat secara cepat diadopsi masyarakat, khususnya oleh masyarakat pertanian. 
     Menurut (Rogers dan Shoemaker, 1986), ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan siaran pertanian di TV ini, agar isinya cepat bermanfaat, yaitu program yang ditawarkan hendaknya berkaitan dengan cepat-tidaknya masyarakat melakukan adopsi siaran tersebut. Menurutnya, kecepatan adopsi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: 
1. Sifat inovasinya
2. Sifat sasaran
3. Cara pengambilan keputusan sasaran
4. Saluran komunikasi yang digunakan
5. Kondisi penyuluhnya sendiri dalam menyampaikan inovasi kepada sasaran
6. Ragam sumber informasi
     Menurut Soekartawi (2005b) dalam bukunya ’Komunikasi Pertanian’ menyarankan agar adopsi (dan difusi inovasi) teknologi dapat berhasil, maka teknologi (bahan yang disuluhkan melalui TV tersebut) sebaiknya:
1. Mampu memberikan keuntungan yang relatif dapat dirasakan oleh adopternya (orang yang meniru teknologi tersebut).
2. Bentuknya sederhana (simple) agar lebih mudah dipraktekkan.
3. Sifatnya kompabilitias yaitu teknologi tersebut sesuai kebutuhan dan tidak bertentangan dengan keunggulan lokal atau tidak berlawanan dengan adat istiadat, norma dan budaya setempat.
4. Mudah dicoba dengan memanfaatkan sumberdaya disekitar petani bertempat-tinggal.
5. Mudah dilakukan evaluasi oleh siapa saja, khususnya oleh petani.
     Patut dicatat bahwa karena sekarang ini seringkali muncul adanya perubahan lingkungan strategis global yang mengarah kepada semakin kuatnya liberisasi dan globalisasi perdagangan pertanian, maka hal ini akan membawa konsekuensi terhadap daya saing komoditi pertanian di pasar internasional. Dengan demikian, maka peran informasi (dan komukasi) secara cepat melalui TV atau radio menjadi lebih penting lagi. 
     Oleh karena itulah maka informasi dan komunikasi dari teknologi pertanian yang dibutuhkan petani semestinya juga mampu mengantisipasi berbagai perubahan yang ada tersebut. Dengan demikian, informasi dan teknologi, bukan sekedar dapat meningkatkan produktivitas, tetapi juga dapat meningkatkan kondisi sosial ekonomi mereka khususnya petani beserta keluarganya. Berkait dengan masalah ekonomi keluarga tani, tidak lepas dari pendapatan usahatani. Pendapatan petani adalah pendapatan yang diperoleh dari seluruh cabang usahatani selama waktu tertentu, baik yang dijual maupun yang tidak dijual (Soekartawi, 1990).
  3. Peran Komputer
     Penelitian Sudaryanto terhadap pedagang pertanian di beberapa kota di Jawa Timur, juga memberikan indikasi bahwa petani yang berpengalaman (usia >41 tahun) dan berpendidikan (melalui kursus-kursus) dan besarnya nilai omzet bisnis produk pertaniannya, adalah mereka yang memanfaatkan komputer dalam kegiatan bisnisnya (Sudaryanto, Courvisanos and Soekartawi, 2007). Hasil studi ini juga memberikan informasi bahwa komputer ternyata sangat membantu meningkatkan portfolio bisnis produk pertanian.
     Dalam kesempatan lain, Sudaryanto, Courvisanos and Soekartawi (2007) juga melaporkan bahwa pemanfaatan komputer untuk pengembangan agribisnis ternyata juga mampu meningkatkan nilai tambah. Model pemanfaatan komputer, dari hasil penelitiannya, dapat dilihat di Gambar 1. Terlihat di Gambar 1 bahwa proses sampai akhirnya pedagang produk pertanian melakukan adopsi komputer untuk mendukung kegiatan agribisnisnya, memang memerlukan suatu proses yang panjang.

3 komentar:

  1. ade firmansyah

    peran teknologi, baik itu media elektronik maupun media cetak sangat berperan penting dalam bidang pertanian untuk membantu para petani memperoleh info-info terbaru.

    BalasHapus
  2. Ilham

    Artikelnya menarik dan informasi yang disajikan bisa menambah wawasan bagi semua pembaca dan bisa membantu bagi yang membutuhkan informasi seputar peran teknologi dibidang pertanian.

    BalasHapus
  3. Tirtayasa

    blognya bagus, tampilannya menarik, artikelnya bermanfaat.. lebih diperbanyak lg ya artikelnya...

    BalasHapus